Kamis, 21 Maret 2013

Tanggung Jawab Laki-Laki sebagai Pemimpin Keluarga

            
video


             Dalam suatu keluarga seorang Laki-Laki tidak akan pernah putus tanggung jawabnya sebagai Pemimpin keluarga. Pada pandangan islam pun sudah pasti demikian... 
Seorang laki-laki adalah tulang punggung keluarga, dan menjadi pedoman bagi anak-anaknya untuk menjadi seorang muslim yang menjalankan perintah-perintah Allah SWT dengan berpedoman Al-Quran dan As-Sunnah atau hadist.         

              Sesuatu yang rumit jika tanggung jawab tersebut menjadi beban bagi kaum adam, karena bagaimanapun juga laki-laki tidak dipandang dari segi usia atau harta benda yang dimilikinya untuk menjadi pemimpin yang dihormati dalam suatu keluarga melainkan semua manusia yang diciptakan berjenis kelamin "Laki-Laki". Berikut ini  saya akan menceritakan "seorang Ayah dari anak-anaknya dan Suami bagi Istrinya"

              Pekerjaan hanyalah aktifitas manusia untuk memenuhi kebutuhannya di bumi (dunia), namun pada kenyataannya manusia di berikan akal dan pikiran serta diciptakan sesempurna mungkin sebagai khalifah dimuka bumi ini untuk melakukan aktifitas yang mendatangkan kebaikan baik dunia maupun  akhirat. yang menjadi fenomena saat ini sudah banyak umat manusia yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang tampak dalam kesehari-harian dengan apa yang terjadi di dunia ini.sementara ia seringkali melupakan apa yang seharusnya ia persiapkan untuk di akhirat kelak.

                Sebut saja nama laki-laki atau pria ini adalah Ridho, Sejak kecil ridho dididik oleh orang tua yang memiliki pendidikan yang baik dimata warga sekitarnya ditempat ia tinggal. Ayah dan Ibu Ridho adalah seorang Guru. Sewaktu ia kecil selalu diajarkan yang baik mengenai etika berbicara, etika dalam bersikap baik di depan orang tua ataupun teman-teman sebayanya,dan Mengenai Sholat. Namun ada satu hal yang sangat disayangkan bagi ridho disaat ia merasakan menjadi seorang Ayah dan Suami, karena ketika ia kecil selalu kabur saat disuruh ke tempat pengajiaan untuk belajar membaca Al-quran.
                  Ridho mempunyai anak perempuan, sejak kecil anak tersebut selalu di berikan pendidikan yang baik oleh ridho dan istrinya, Namun karena kesibukannya dalam bekerja mencari nafkah baik ia dan istrinya, anak tersebut dijaga oleh seorang pembantu. 
                   Dibalik kesibukan ridho dan istrinya mereka selalu menyempatkan diri untuk berkumpul saat makan malam atau hari-hari libur setiap minggunya. Ridho menyadari karena penyesalan masa kecilnya tidak mengikuti belajar membaca Al-Quran ia mensupport anaknya untuk ikut kegiatan di TPA dekat dengan tempat tinggalnya. Selain itu Istrinya pun mengajari anaknya membaca Al-quran di rumah pada waktu luang. Hingga suatu saat anaknya pun tumbuh menjadi seorang Gadis. Anak tersebut menjadi baik dalam membaca Al-Quran.

         Singkat cerita ketika anaknya mencapai puncak kedewasaan ia mengajak adik-adik dan saudara-saudaranya berkumpul untuk melakukan aktifitas mengaji setiap selesai shalat maghrib. Alhasil semuanya bersemangat untuk menjalani aktifitas tersebut, namun sang Ayah membatasi diri dengan beralasan saat hendak memulai shalat jamaah, ia mengatakan bahwasannya ia sudah terlanjur melakukan shalat terlebih dahulu, maka ia berdiam diri di kamar peristirahatannya. dan Istrinya pun bisa memahami isi hatinya yang terdalam atas rasa mindernya dihadapan anak serta merasa betapa ia tidak pantas menjadi imam bagi keluarganya karena tidak dapat mengaji dengan baik dibandingkan istrinya. Kemudian kegiatan tetap terus dilanjutkan, setelah selesai shalat isya berjamaah barulah Istrinya mengajak ridho untuk berbincang seputar aktifitasnya dalam sehari, dan baru masuk ke topik yang dinantinya mengenai membaca Al-quran. 

Istri berkata " Ayah tadi mengapa tidak ikut mengaji?"

Ridho Menjawab "Aku malu ma terhadap anak-anakku dan juga ibumu, karena kalau mereka tahu aku tidak pandai mengaji. sangat tidak pantas aku menjadi imam bagimu dan juga anak-anak kita."

Istri (terdiam dan menghela nafas), "Anak laki-lakimu yang masih berumur 12 tahun saja tetap harus di barisan paling depan dalam melakukan sholat berjamaah, jika ayah mau aku selalu siap untuk mengajarkan ayah mengaji kalau memang ayah malu dengan itu, ayah bisa belajar dengan rekan-rekan ayah yang lebih mengetahuinya" (membujuk). 

                  Hingga Akhirnya ridho tersadar Allah tidak akan merubah seseorang jika orang itu sendiri tidak berusaha untuk memperbaikinya. "Tidak ada kata terlambat untuk melakukan hal yang baik di mata Allah" dari pada menyesal pada waktu yang ditentukan nati. Keesokan harinya ridho sedia menjadi imam kemudian berusaha membaca Al-Quran dengan baik walaupun masih terbata-bata, dan istrinyapun salut dengan kepintarannya karena perkembangannya begitu pesat, ketika berkumpul ridho langsung bisa mengkoreksi bacaan yang salah hanya dengan membaca buku bacaan surat-surat pendek yang terdapat tulisan latin. Anak-anaknya pun sangat senang dengat keberadaannya di tengah-tengah pengajian, anaknya tetap menghormatinya sebagaimana orang pemimpin yang selalu diseganinya, tidak dapat mencela atau merendahkannya karena rasa hormat yang sudah tertanam sejak kecil. 
dan ternyata Istri dan Anak-anaknya selalu berdoa disaat tidak melihat keberadaan ridho sewaktu menjalankan pengajian mereka masing-masing berdoa dalam hati agar di mudahkan hati ridho untuk mengerjakan kebaikan  serta menjauhi kebathilan.

*Bagi teman-teman yang merasa ada kesamaan nama mohon dimaafkan*
Semoga cerita ini bermanfaat bagi kita semua Amin ya Rabbalalamin.. ^_^ Salam Sukses..